Metode pemboran yang digunakan bergantung kepada asumsi letak dan ketebalan target yang akan di bor berdasarkan pada informasi atau data yang permukaannya diperoleh, dengan melakukan pemboran, maka dapat dievaluasi kembali konsep  dan prediksi geologi (Interpretasi) yang telah ada sebelumnya (Data Geologi). Pembuatan lubang secara vertikal digunakan untuk kondisi dimana zona mineralisasi diperkirakan pada kedalaman yang dangkal.

Metode pemboran dipakai tidak terlepas dari beberapa faktor utama terhadap endapan yang akan di eksploitasi. Diantaranya adalah litologi dan struktur geologi serta biaya dan waktu yang tersedia disamping itu pula ketrampilan opertaor bor. Metode yang dipakai pada kegiatan ekplorasi PT. Antam unit Geomin adalah Single Drill, dikarenakan endapan yang dicari adalah Nikel Laterit, yang kita tahu bahwa endapan Nikel Laterit kekerasannya tidak terlalu keras atau lunak (3-4).

Pemboran dilakukan untuk dapat menentukan batas (outline) dari beberapa endapan dan juga kemenerusan dari endapan tersebut yang berfungsi untuk perhitungan cadangan. Metode pemboran yang akan digunakan bergantung pada akses permukaan. Lubang bor pertama digunakan untuk proyeksi dip dan anomali bawah permukaan. Pada daerah yang tidak mengalami kendala akses, pola pemboran yang digunakan adalah persegi panjang dan bentuk teratur. Program berikutnya direncanakan setelah melihat hasil dari sejumlah lubang bor pada daerah target.

 

 

 

3.1.3 Tipe Alat Bor Yang di Pakai

Perencanaan pemboran yang akan dilaksanakan pada dasarnya harus memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan jalannya aktifitas. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan tipe atau model alat bor, yaitu:

1)     Tujuan dari pemboran

2)     Topografi dan geografi (Keadaan Medan, Sumber Air)

3)     Litologi dan struktur geologi (Kedalaman Pemboran, Pemilihan Mata Bor)

4)     Biaya dan waktu yang tersedia

5)     Peralatan dan ketrampilan

Dilihat dari faktor yang mempengaruhi pemilihan alat bor diatas, maka PT. ANTAM Tbk. Unit Geomin menggunakan alat bor tipe TDC 1 dan YPM 05, yang dipakai untuk kegiatan pemboran di Pulau Pakal, sedangkan di daerah Mornopo sendiri kegiatan pemboran saat ini dikerjakan oleh kontraktor pemboran                CV. KASAM yang bekerjasama dengan PT. Antam Tbk, unit Geomin. CV. KASAM juga memiliki beberapa alat bor dengan sistim kerja Hydrolic, sebanyak 16 unit, namun yang dioperasikan hanya 10 unit.

Tipe-tipe alat tersebut adalah: TDC I, YPM 05, OE 2L, KOKEN, TOHU dan TONEY. Tidak ada perbedaan yang menonjol dari keenam tipe alat diatas hanya saja pada ukuran alat tersebut.

3.1 Strategi Penentuan titik bor

Adapun jarak antara lubang bor yang satu dengan yang lain telah ditetapkan atau di plot oleh tim pengukuran dengan diberi tanda patok. Proses aktifitas pengeboran pada awalnya dilakukan dengan jarak atau spasi 500 m, kemudian bila hasilnya diharapkan ada maka spasinya lebih diperkecil hingga 100 m. Pada jarak atau spasi 100 m ini, analisa kadar dari hasil pemboran baik dilihat secara megaskopis atau uji laboraturium terindikasi kadarnya tinggi maka dilanjutkan terus hingga pada spasi 12,5 m.

Temuan dilokasi, aktifitas pemboran yang dikerjakan baru pada jarak atau spasi 50 m yaitu pada daerah transit, sedangkan pada lokasi mornopo (MBT/Mining Blok Test) yang telah ditambang untuk perbandingan analisis kadar hasil pemboran dengan kadar hasil penambangan awalnya dikerjakan pemboran dengan spasi 12.5 m.

Spasi lubang bor didasarkan pada antisipasi ukuran target atau pengalaman sebelumnya terhadap endapan yang sejenis dari sejumlah kegiatan pemboran dilokasi tersebut. Lokasi pemboran dan orientasi titik bor selanjutnya didasarkan pada sukses pemboran pada lubang pertama. Apabila pemboran awal tidak memberikan keyakinan geologi yang pasti maka target lain harus dicoba dan masih dalam wilayah kontrak perusahan. Suatu endapan paling tidak sudah didefinisikan arah kemenerusan dan zona mineralisasinya. Spasi lubang bor bergantung pada tipe mineralisasi dan arah kemenerusan tipe.

Pada rencana kerja pemboran yang dibuat, telah ditentukan Blok-blok mana yang didahulukan untuk kegiatan pemboran selanjutnya. Hal ini berkaitan dengan hasil analisis kadar pada pemboran spasi sebelumnya, sebagai contoh pada  Mornopo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.2.3          Analisa BiayaPemboran

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah biaya dalam pemboran Yaitu :

1.     Personil (crew)

2.     Teknik pemboran yang digunakan

3.     Peralatan yang dipakai

4.     Lokasi dan kondisi daerah.

-        Faktor-faktor yang berkaitan dengan personil (crew) meliputi :

1.     Kemampuan Teknis

2.     Kemampuan fisik

3.     Kemempuan menajemen

4.     Kemampuan bersosialisasi

-        Faktor peralatan yang digunakan dan metode pemboran

Dalam pekerjaan pemboran, peralatan dan metode pemboran yang dipilih sangat sangat mempengaruhi jumlah biaya yang akan digunakan. Adapun peralatan dan metode pemboran yang digunakan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, berikut :

1.     Kondisi Geologi (Formasi Yang Ada)

2.     Besar lubang yang direncanakan

3.     Kedalaman Pemboran

4.     Keahlian Kru Bor dalam mengoperasikan alat

-        Lokasi dan kondisi daerah

Kondisi lokasi pekerjaan pemboran mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap jumlah biaya yang dibutuhkan. Yaitu sebagai berikut :

1.     Keadaan topografi daerah pemboran ( Ketersediaan jalan untuk trnsport)

2.     Kondisi Medan (jenis transportasi yang ada seperti darat, laut dan sungai)

3.     Sarana pendukung yang ada pada daerah lokasi ( sarana trnsport yang ada, material).

Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pemboran tersebut diatas dapat dibedakan menjadi 2(dua) yaitu :

 

-        Faktor biaya yang dapat diubah (variable Factor)

Yang meliputi :

a.      Kemampuan mesin

b.     Kemampuan personil

c.      Sifat lumpur bor

d.     Jenis mata bor.

-        Faktor yang tidak dapat diubah (fixed factor)

Yang meliputi :

a.      Kekerasan Batuan

b.     Type dan tekanan pori formasi

 

 

1. Pengontrolan Biaya Pemboran

Untuk mencegah agar biaya pemboran tidak melebihi target yang direncanakan (rencana Anggaran biaya), maka perlu adanya beberapa perencanaan, pengawasan dan analisa sebelum pekerjaan dimulai atau saat pemboran dilakukan. Bebrapa pengontrolan yang dapat dilakukan. Adalah sebagai berikut :

-        Perencanaan yang baik terdiri atas :

a.      Penganalisisan sasaran pemboran dan merumuskan hal-hal yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran.

b.     Memutuskan siapa yang akan dipilih untuk mengerjakan tugas dan menginstruksikan bagaimana dan kapan tugas itu mesti dikerjakan.

 

 

No. U r a i a n Satuan Volume Harga (Rp) Jumlah (Rp)
I.

1.

 

2.

3.

Transportasi

Mobilisasi, Demobilisasi dan perpindahan  antar lokasi alat bor

Material

Personil :

a.  Udara

b.  Darat

Is

 

Is

 

Orang

Orang

-

-

2  x  0,5

2  x  0,5

 

-

 

-

 

-

-

 

-

 

-

 

-

-

Jumlah  I.
II.

1.

 

 

 

 

 

 

2.

 

 

 

 

 

 

3.

 

 

 

 

 

4.

Persiapan dan Pemboran

Persiapan lapangan

a.  Pemasangan balok landasan

b.  Pengesetan mesin dan lokasi

Lokasi

Lokasi

1      x     1

1       x     1

-

-

-

-

Pemboran  pilot dia. 6” – 8”

a.    0      -      50

b.   50     -      100

c.  100    -      150

d.  150    -      200

Jumlah II.1               -

Metrer

Metrer

Metrer

Metrer

1      x      50

1      x      50

1      x      50

1      x      50

-

-

-

-

-

-

-

-

Logging

a.       Resistivity

b.       SP

Jumlah II.2 -

Metrer

Metrer

1      x      200

1      x      200

-

-

-

-

Reaming Dia.  10”  -  12”

a.    0      -      50

b.   50     -      100

c.  100    -      150

d.  150    -      200

Jumlah II.3 -

Metrer

Metrer

Metrer

Metrer

1      x      50

1      x      50

1      x      50

1      x      50

-

-

-

-

-

-

-

-

Sub Jumlah II.4

Jumlah  II

-

-

III.

1.

 

 

 

 

 

 

 

2.

Konstruksi dan Devolopmen

Pengadaan dan pemasangan material

a.    Pipa dia. 6”

b.    Pipa dia. 4”

c.    Pipa piezometer dia. 1”

d.    Screen dia. 4” Low carbon

e.    Reducer dia. 6” –  4”

f.     Centralizer

g.    Plenes + tutup 6”

h.    Gravel

i.     Gruting cement

 

 

Pembersihan sumur

a.    Pengocokan mekanis

b.    Water Jetting

c.    Over pumping

Metrer

Metrer

Metrer

Metrer

Buah

Buah

Buah

Lubang

1     x       60

1    x    116

1    x      48

1    x      24

1     x      1

1      x      3

1     x        1

1     x       6

1     x       1

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Sub Jumlah III. 1 -

Jam

Jam

Jam

1      x      12

1      x      12

1      x      12

-

-

-

-

-

-

 

 

IV.

 

Uji pemompaan

a.    Recovery test

b.    Analisa air

 

Sub Jumlah III. 2
Jumlah  III

Jam

Sample

1      x      12

1      x      2

-

-

-

-

 

V.

Laporan

a.       Laporan  Pemdahuluan

b.       Laporan  bulanan

c.       Laporan kemajuan

d.       Laporan  akhir

 

Jumlah  IV. -

Eksplorasi

Eksplorasi

Eksplorasi

Eksplorasi

0,07   x   6

0,47   x   6

1   x   6

0,07   x   10

-

-

-

-

-

-

-

-

Jumlah  V.

TOTAL BIAYA (I + II + III + IV + V)

-

-

(Devis i Bor, PT. ANTAM Tbk. Unit Geomin ; 2002)

Tabel, 5.2.3

Contoh Rencana Anggaran Biaya Pemboran

Untuk perhitungan core recovery pada tiap lubang bor 90 – 100 % adalah perolehan sample yang baik. Jika core recovery kurang dari 90 % maka dilakukan pemboran ulang dengan cara titik bor geser searah dengan line ± 0,5 m.

Berikut adalah contoh perhitungan core recovery yang sesuai target dan tidak sesuai target :

a.   Hitungan Core Recovery yang sesuai terget

Jika lubang bor yang kedalaman (panjang penetrasi bor) adalah 25 m, dengan perolehan panjang core 24 m. Maka Core Recovery adalah  :

Panjang core yang diperoleh

Core Recovery      =                                                    x 100 %

Panjang penetrasi bor

24 m

=                  x  100 %

25 m

=    96 %

b.   Hitungan Core Recovery yang tidak sesuai terget

Jika lubang bor yang kedalamannya 25 m dengan perolehan panjang core 22 m. Maka Core Recovery adalah :

24 m

Core Recovery      =                   x  100 %

25 m

=          88  %