TATA CARA EKSPLORASI

Pada dasarnya, kegiatan penyelidikan cebakan mineral dilakukan secara bertahap. Tahapan kegiatan ini dilakukan terutama dikaitkan dengan sasaran yang akan dicapai, seperti besarnya anggaran awal yang cukup besar, dan lain-lain. Secara umum tahapan tersebut dituangkan dalam tatacara eksplorasi dan tahapan eksplorasi.

Kegiatan sebelum pekerjaan lapangan
Kegiatan sebelum pekerjaan lapangan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai prospek cebakan mineral. Kegiatan ini meliputi studi literatur dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan peralatan antara lain peta topografi, peta geologi, alat pemboran inti, alat ukur topografi, palu dan kompas geologi, loupe, magnetic pen, GPS, pita ukur, kamera, alat gali, magnetometer, kappameter dan peralatan geofisika, Alat tulis, tas lapangan, dan kantong sample, cangkul, linggis, balincong, parang serta alat pendukung lainnya.

Kegiatan Pekerjaan Lapangan

Kegiatan pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah penyelidikan geologi meliputi pemetaan; pembuatan paritan dan sumur uji, pengukuran topografi, survey geofisika dan pemboran inti.
Kegiatan setelah pekerjaan lapangan

Kegiatan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan antara lain

* Analisis Laboratorium (meliputi analisis kimia dan fisika)

* Pengolahan Data

* Penentuan Sumber Daya dan Cadangan

* Pembuatan laporaN

Rangkaian eksplorasi dan pelaporan

Dalam melakukan eksplorasi sumberdaya alam (logam, nonlogam dan bahan galian industri), terdapat beberapa rangkaian kegiatan eksplorasi yang dapat digunakan untuk mendapatkan data pendukung sebagai input guna mendapatkan hasil dari daerah prospek dan cadangan.

Adapun rangkaian kegiatan eksplorasi meliputi pemetaan geologi, pengukuran topografi, dan pengukuran geofisika (geomagnet dan geolistrik dipole-dipole).

1. Pemetaan Geologi

* Landsat, analisa foto udara, citra landsat, berguna untuk melihat kemungkinan-kemungkinaterdapatnya aspek mineralisasi;

* Mapping, pemetaan geologi permukaan (pemetaan tinjau, semi detail, detail, pengukuran penampang stratigrafi). Daerah yang memiliki fitur sama dengan daerah yang telah ditambang akan memberikan kandungan sumberdaya yang hampir sama;

* sumur uji (Testpit) dan paritan, berguna untuk mendapatkan data-data atau melihat ekstensi litologi batuan secara vertikal.

2. Pengukuran Topografi

Metoda yang digunakan pada pengukuran topografi dipergunakan yaitu poligon tertutup. Peralatan yang digunakan adalah Theodolite (T-0) yang banyak dipergunakan untuk pengukuran di lapangan baik untuk perencanaan bangunan, irigasi, jalan raya, transmigrasi, bendungan, lapangan terbang dan lainnya. Poligon tertutup menggunakan satu titik ikat yang mana merupakan titik pertama juga merupakan titik terakhir dengan membuat titik ikat bantu yang berjarak 50 meter antar titik ikat yang satu dengan yang lainnya baik ke arah depan/belakang dengan spasi 20 meter ke arah samping kiri/kanan dengan tujuan untuk membuat peta grid topografi sehingga mempermudah untuk menentukan lokasi titik test pit, pengambilan conto, dan pengukuran geofisika.

3. Pengukuran Geofisika

Pengukuran geofisika merupakan kegiatan yang dilakukan setelah kegiatan pengukuran topografi dan pemetaan geologi. Metoda pengukuran geofisika yang dilakukan terdiri dari dua metoda yaitu geomagnet dan geolistrik.

Pengukuran geofisika dimaksudkan untuk mendapatkan data dan menentukan model geologi bawah permukaan yang ditampilkan dalam bentuk peta anomali geomagnet, peta anomali geolistrik, penampang geomagnet, dan penampang geolistrik.

a. Geomagnet

Metoda ini didasarkan pada perbedaan tingkat magnetisasi suatu batuan yang diinduksi oleh medan magnet bumi. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya perbedaan sifat kemagnetan suatu material. Kemampuan untuk termagnetisasi tergantung dari susceptibilitas magnetik masing-masing batuan. Harga Susceptibilitas ini sangat penting didalam pencarian benda anomali, karena sifatnya yang sangat khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam. Harganya akan semakin besar bila jumlah kandungan mineral-mineral magnetik pada batuan semakin banyak.

Pengukuran magnetik dilakukan pada lintasan ukur yang tersedia dengan interval antar titik ukur 10 m dan jarak antar lintasan 40 m. Batuan dengan kandungan mineral-mineral tertentu dapat dikenal dengan baik dalam eksplorasi geomagnet, yang dimunculkan sebagai anomali. Anomali yang diperoleh merupakan hasil distorsi pada medan magnetik yang diakibatkan oleh material magnetik dari kerak bumi atau mungkin juga dari bagian atas mantel.

b. Geolistrik (Metoda Resistivity Dipole-Dipole)

Dalam pengukuran geolistrik dilakukan pengukuran di sepanjang lintasan ukur yang telah dibuat sebelumnya oleh tim topografi. Jarak antar titik ukur yaitu 10 m, sedangkan jarak antar lintasan adalah 50 m.

Pengukuran geolistrik bertujuan untuk mengetahui variasi harga tahanan jenis semu batuan bawah permukaan yang mencerminkan adanya perbedaan jenis lapisan batuan.

Bila arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua buah elektroda arus, kemudian diukur peda potensial yang ditimbulkan oleh adanya injeksi arus tersebut pada dua buah elektroda potensial, maka akan diperoleh harga tahanan jenis semu berdasarkan susunan elektroda dipole-dipole.

Nilai resistivitas yang dihitung bukanlah nilai resistivitas bawah permukaan yang sebenarnya, namun merupakan nilai semu yang merupakan resistivitas dari bumi yang dianggap homogen yang memberikan nilai resistansi yang sama untuk susunan elektroda yang sama. Hubungan antara resistivitas semu dan resistivitas sebenarnya sangat komplek (Loke, 2000), sehingga untuk menentukan nilai resistivitas bawah permukaan yang sebenarnya diperlukan perhitungan secara inversi dengan menggunakan bantuan komputer.

Harga tahanan jenis semu yang terukur dipengaruhi oleh adanya perbedaan harga tahanan jenis masing-masing lapisan batuan bawah permukaan.

Untuk mengukur variasi harga resistivitas semu (tahanan jenis semu) perlapisan batuan di bawah permukaan bumi dengan menggunakan metoda dipole-dipole, maka dilakukan penempatan sepasang elektroda arus ( A dan B ) dan sepasang elektroda potensial ( M dan N) di permukaan bumi pada satu garis lurus, dimana untuk elektroda-elektroda arus A dan B diletakkan berdekatan demikian juga elektroda-elektroda potensia M dan N.

Pelaporan

Hasil dari penyelidikan semua tahapan eksplorasi dituangkan dalam sebuah laporan akhir penyelidikan. Pembuatan laporan ini merupakan kegiatan terakhir seluruh pekerjaan eksplorasi yang berisi uraian teknis dan non-teknis. Laporan terdiri dari bab–bab yang berisi Pendahuluan, Kegiatan penyelidikan, Hasil Penyelidikan dan Kesimpulan. Laporan dilengkapi dengan sari, daftar isi, daftar gambar, daftar foto, daftar tabel dan lampiran, serta daftar pustaka.